“Eh
bro malam ini kita ngapain?” Tanya Uwin setelah menyruput habis es tehnya.
“Entwah
lwah.” Jawab Eko sambil masih mengunyah makanannya.
“Aku
mungkin Cuma diam dirumah.” Yodi ikutan menjawab.
“Sama
lah. Aku mungkin Cuma diam di rumah.” Ito tak mau kalah.
Seperti biasa 4 sekawan ini ngerumpi
setelah menghabiskan makananya di kantin. Meskipun semua murid sudah kembali
kekelas masing-masing tetapi 4 makhluk halus ini masih mendiami kantin sekolah.
Wajar saja karena jam terakhir guru yang mengajar tidak masuk dan hanya
memberikan sedikit catatan. Yodi yang seharusnya berpangkat sebagai sekertaris
2 menyerahkan semua tugas catat mencatat kepada sekertaris 1, Wenny.
“Ah ndak asik kalian. Kayak aku dong
malam minggu keluar.”
“Memang kau kemana ?”
“Warnet.”
“Huuuu.” Semua menyorakinya
bersamaan.
“Dasar jones. Masih mendingan aku.
Biarpun ndak keluar aku masih beduaan dengan cewek.” Yodi membanggakan dirinya.
“Siapa?” Ito memasang muka
penasaran.
“Sandra.”
“Ya-e-lah. Adikmu rupanya.”
“Yee aku kan ndak ada bilang kalau
cewek itu pacarku.” Yodi membela dirinya.
Penjaga kantin terus melirik kearah
4 siluman itu dengan pandangan sinis. Bagaimana tidak 4 orang ini kalau sudah
ngerumpi lebih lama dari pada wanita. Dan yang diomongin mereka pun tak
jauh-jauh amat tentang wanita dan hal-hal yang bersangkutan dengan pria. Jika
mereka membicarakan hal-hal tentang laki-laki keren disekolah mungkin sang
penjaga kantin akan memberikan air gratis dan juga ikut mendengarkan cerita
merika. Wajar saja penjaga kantin ini seorang wanita yang umurnya masih sama
dengan mereka karena sekolahnya masuk siang jadi dia menghabiskan waktu paginya
untuk membantu ibunya menjaga kantin.
Penjaga
kantin ini sebenarnya sedikit bosan karena harus sering berurusan dengan 4
siluman ini. Terlihat dari mukanya yang jijik jijik enyel karena
melihat mereka berempat. Ya karena mereka adalah orang pertama
yang berada dikantin sebelum bel istirahat berbunyi dan orang yang paling akhir
meninggalkan kantin saat jam pelajaran seharusnya sudah dimulai. Hingga
akhirnya dengan terpaksa dirinya harus bersabar diri untuk menunggu keempat
orang itu agar pergi meninggalkan kantinnya.
“Baiklah
kita hari ini pergi untuk makan bersama. Ngumpul dirumah Eko. Oke.” Uwin
tiba-tiba mengeraskan suaranya sehingga sang penjaga kantin ikut mendengar
suara Uwin.
“lo
kok dirumah ku?”Eko protes
“Oke.”
Jawab Ito dan juga Yodi bersamaan.
Bel
sekolah berakhirpun berbunyi dengan keras. Keempat siluman ini segera
meninggalkan kantin tersebut. Penjaga kantin yang dari tadi sudah menunggu lama
akhirnya dapat bernafas lega. Hingga akhirnya dirinya teringat hal yang sangat
penting jika mereka berempat belum membayar makanan mereka. Dengan perasaan
kesal ia membersihkan meja yang dipakai oleh keempat siluman itu. Hingga
akhirnya ia menemukan secarih kertas kecil di bawah mangkok.
Makanannya dan minumannya
dibayarkan sama Uwin Wijaya kelas 11 mipa B.
Setelah
membaca tulisan itu diambilnya buku utang yang selalu berada didekatnya.
Dicarinya nama Uwin Wijaya dibukunya. Terlihat daftar utang yang sangat panjang
dibuku tersebut. Dan dibawahnya ia kembali menuliskan tanggal dan jumlah
utangnya.
***
“Yodi. Kamu nanti ini mau keluar?”
Tanya Sandra yang ikutan duduk bersama Yodi di ruang tv.
“Mungkin iya dan mungkin juga tidak.
Sebenarnya tadi Uwin ngajak keluar. Makan bersama katanya. Tapi lebih enakan
makan dirumah dari pada di luar.”
“O gitu. Memangnya Uwin ngajak
keluar jam berapa?”
Yodi terdiam mendengar pertanyaan
dari Sandra adiknya. Diingatnya kembali kejadian saat pulang sekolah. Dalam
bayangan nya ia ingat jika dirinya menulis catatan kecil dan menaruhnya di
bawah mangkok. Eh salah ingatan. Ia menggelng-gelengkan kepalanya dan
ingatananya yang lainpun terbayang kembali. Disitu ia ingat jika Uwin tidak
pernah mengatakan jam berapa mereka harus berkumpul. Dipandanginnya wajah
adiknya dengan wajah serius.
“Kenapa?” Sandra terheran-heran.
“Ah tidak.” Yodi mengelak. Dalam
hatinya ia merasa sangat lega karena tau alasan yang tepat agar ia bisa berdiam
diri dirumah.
Yodi ini pada dasarnya sama seperti
anak muda pada umumnya. Suka berkumpul dan pergi bersama-sama dengan temanya.
Tapi ia sedikit anti dengan malam minggu. Karena malam minggu itu malamnya
orang-orang yang punya pasangan. Sedangkan Yodi jelas tidak punya pasangan
untuk diajak keluar. Jadi ia lebih memilih melakukan aktifitas yang lebih
berguna saat malam minggu. Tidur misalnya.
Terdengar suara guntur dari langit
saat ia dan adiknya sedang asik menonton tv. Hal itu membuat hatinya semakin
lega. Ia pun bangkit berdiri dan pergi ke tangga menuju kamarnya dilantai dua.
“Eh Yodi. Jadi malam ini kamu mau
keluar atau tidak?” Teriak adiknya yang masih berada di ruang tv.
“Mungkin tidak. Jadi tolong masakan
ya.” Yodi ikutan teriak dari lantai dua.
***
Dirumah Eko, saat jam menunjukan
pukul 7 malam, Uwin datang sambil mengenakan mantel hujan. Eko hanya bisa
melihat kedatangan Uwin dengan pandangan tak percaya.
“Kamu beneran datang?” Tanya Eko
yang hanya menggunakan celana pendek.
“Ya iyalah. Ito sama Yodi mana?”
“Belum datang.”
“Hah ? kok ?”
“Memangnya kamu tadi ada bilang
ngumpulnya jam berapa?” Uwin terdiam membeku mendengar pertanyaan dari Eko.
Segera diambilnya handphone yang berada dikocek celananya. Dan segera menelpon
Ito. Ito yang kala itu sedang mengurusi adiknya yang paling kecil tidak
mendengar suara dari handphonenya. Segera ia menelponYodi. Yodi yang kala itu
sedang makan bersama dengan adiknya sedikit enggan mengangkat panggilan
tersebut meskipun akhirnya ia tetap menjawab panggilan tersbut sambil menutup
hidungnya lalu berbicara pelan. “Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau
berada diluar jangkuan. Tiiit.” Yodi segera mematikan handphone nya lalu
melanjutkan makanannya. Sedangkan Uwin habis memaki-maki mereka dirumah Eko.
Akhirnya rencana malam minggu yang sudah disusun oleh Uwin gagal total hanya
karena lupa memberitahu waktu untuk berkumpul.
“O ya. Tadi kamu tumben nanyain aku
keluar atau ndak?” Tanya Yodi sambil memakan makanannya.
“Ah, sebenarnya tadi disekolah,
anak-anak karate ngajakin ngumpul bareng makan sama-sama karena salah satu
anggota kami ada yang ulang tahun. Tapi ya karena kamu tadi suruh masakin ya
jadi aku nggak ikut.”
Yodi merasa bersalah karena telah
merengut kebahagian adiknya. Makanan enak yang dimasak oleh adiknya tiba-tiba
terasa hambar dan enggan untuk masuk ke dalam perut. Dipandanginya wajah
adiknya dengan serius.
“Kenapa Yodi?”
Diletakannya sendok yang ia pegang
keatas piriny yang masih berisi. “Kalau kamu mau jalan sama teman-teman kamu,
ya jalan aja. Aku ndk apaa-apa kok dirumah.”
“Endak ah. Sebenarnya Sandra juga
ndak terlalu suka dengan kegiatan kayak gitu. Ujung-ujungnya pasti anggota
cowok sok-sok ngedekatin anggota cewek. Dan juga enakan makan dirumah dari pada
diluar.”
Yodi sedikit tersenyum. Diangakatnya
kembali sendok yang ia letakan dan mulai makan dengan lahap. Hati nya sedikit
senang karena perlahan-lahan adiknya sudah mulai dewasa. Dan mungkin nanti akan
lebih dewasa dari pada dirinya sendiri.
Sementara Uwin sedang menikmati teh
hangat dan sepiring kue bersama dengan Eko. Hujan yang semakin kuat membuat
Uwin tidak bisa memaksakan diri untuk pulang. Dengan amarah yang masih
tersimpan ia mengigit kue-kue tersebut sambil membayangkan Ito dan juga Yodi.
Cara makannya pun tidak sengaja terpengaruh. Ia menggigit kue tersebut
seakan-akan sedang mengunyah daging. Eko yang melihat hal tersebut sedikit
kesal karena cara makan Uwin membuat bagian dari kue tersebut berserakan
dimana-mana.
***
Saat hari senin. Uwin datang
menghampiri Ito dan Yodi yang sedang berdiri didepan kelas menunggu bel untuk
upacara bendera. Ia sudah memilihkan kata-kata yang pas untuk memarahi mereka
berdua. Saat akan memarahi mereka, Yodi dan juga Ito tiba-tiba meminta maaf.
“O ya. Sorry kemarin pas malam
minggu ndak bisa keluar soalnya lagi sibuk.” Yodi beralasan.
“Sama aku juga.”
Yodi dan juga Ito memasang wajah
yang membuat Uwin percaya jika mereka benar-benar sibuk.
“Yodi!”
“Apa?”
“Bukannya
kamu yang kemarin mengangkat ...”
“O ya sebagai permintaaf maaf kami.
Kami akan mentraktirmu makan hari ini.” Yodi segera memotong pembicaraan Uwin.
“Baiklah.” Dengan cepat Uwin
memaafkan mereka. Dalam pikirannya ia bergumam. Hahaha dasar bodoh kali ini
giliran aku yang akan mengerjai kalian. Kalian kira aku bisa memaafkan kalian semudah
itu. Maafku ini mahal harganya. Akan aku pesan makanan yang paling mahal.
Hahahaha . hahahaha.
Saat istirahat Uwin sudah
menghabiskan makanan gratisnya. Ito Yodi dan juga Eko mengumpulkan uang jajan
mereka untuk membayarkan makanan Uwin. Saat hendak kembali kedalam kelas, Uwin
bangkit berdiri dan mendekati sang penjaga warung. Ia berencana membayarkan
utang-utangnya.
“O ya dek. Saya mau bayar utang
saya.” Ucapnya dengan muka polos.
“Uwin Wijaya?”
“Iya.”
“Kelas 11 Mipa B?”
“Iya. Kok tau? Dedek stalkerin abang ya ?”
“Ya ndak lah. Soalnya saya ingat
abang orang yang palin sering ngutang.”
Uwin terdiam. “Iya-iya ini saya mau
bayarin utang saya. Berapa jumlahnya?”
Saat di perhatikan jumlah
keseluruhan utangnya, Uwin hanya bisa terkangak lebar.
“Ini hutang saya?” tanyanya yang
masih kebingungan.
“Iya.”
“Kok bisa sebanyak ini?”
“Bukannya abang sering mentraktir
kawan-kawan abang itu?”
“Hah? Kapan?”
“Ini buktinya.” Sang penjaga
memeperlihatkan kertas kecil yang bertuliskan sesuatu diatasnya. Tulisannya
yang jelek membuat dirinya tau siapa yang telah menulis kertas tersbut. Tidak
lain dan tidak bukan adalah Yodi. Dipandanginya ketiga orang yang seharusnya
berada dibelakangnya. Akan tetapi ketiga orang yang seharusnya bertanggung
jawab telah pergi meninggalkan dirinya sendiri dikantin sekolah.
“Ini bukan tulisan saya. Saya ndak
mau bayar.”
Sang penjaga warung yang sudah
terbiasa dengan sikap seperti itu segera memanggil ibunya yang tadi sedang
mencuci piring dibagian belakan kantin. “Ibu ! Ada orang yang ndak mau bayar.”
Teriaknya santai. Seorang wanita gemuk muncul dari bagian belakang kantin
sambil membawa palu yang biasa ia gunakan untuk memecahkan batu es. Tampangnya
yang begitu menyeramkan menciutkan keberanian Uwin.
“Siapa yang ndak mau bayar?”
Tanyanya dengan suara yang menggelegar dan membuat kaki Uwin tidak berhenti
bergetar.
“Ini Bu...”
“Eh kata siapa. Ini juga mau bayar.
Berapa tadi ? enam puluh ribu tujuh ratus kan?” Uwin segera mengorek-ngorek uang
didompetnya. Dengan tangan yang juga ikutan gemetar membuat beberapa kali
dompet tersebut hampir terjatuh. “Ini.” Ucapnya sambil menyerahkan uang dan
segera berlari meninggalkan kan kantin sambil beberapa kali hampir terjatuh
karena kakinya yangtidak mau berhenti gemetar. Di pelariannya ia sempatkan
untuk melampiaskan kekesalannya. “Siaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaal !!!!!!!”