Jam
dinding dikamar Yodi masih menunjukan pukul 5 pagi. Tampak jarum detiknya tak
bergerak sedikitpun dari tempatnya. Mungkin ia sudah lelah untuk terus bergerak
atau mungkin sudah waktunya mengganti batreinya. Tapi hal ini tak dihiraukan
oleh Yodi. Padahal gejala macetnya jam itu sudah terlihat dari kemarin. Namun
kala itu jam itu masih bergerak walaupun hanya sebatas maju mundur.
“Bang
Yodi !!!!” Teriakan keras terdengar dari arah jam 6. Tepatnya berada dilantai
satu rumahnya. Semakin lama teriakan itu semakin keras hingga akhirnya
terdengar jelas didepan pintu kamar Yodi.
“Baru
jam 5 bentar lagi.”
Duar
!!! suara pintu terbuka dengan paksa. “JAM 5???” Sandra (Adik Yodi) mengepalkan
tangannya dan langsung menghajar makhluk yang masih berada dibalik selimut
tersebut.
Yodi
duduk termenung dimeja makan sambil memakan sarapannya. Rambutnya masih sedikit
berantakan karena pada dasarnya Yodi tidak suka menyisir rambutnya. Menurut
prinsip Yodi, seorang pria harus hidup layaknya seorang pria. Meskipun orang
lain termasuk Sandra tidak begitu mengerti dengan prinsip hidup abangnya.
“Habiskan
makananmu !!”
“I-iya.”
Jawab Yodi dengan suara yang sedikit ketakutan. Wajar saja. Sandra ini
merupakan anak karate yang sudah mengikuti beberapa turnamen dan banyak
mendapatkan beberapa penghargaan. Sedangkan Yodi hanya seorang pria yang
memiliki bentuk tubuh yang standar dengan kekuatan yang standar. Tak bisa
dibandingkan dengan Sandra yang tubuhnya dan tenaganya sedikit lebih tinggi
karena sering latihan. Dan satu-satunya yang masih bisa Yodi banggakan hanyalah
kedudukannya yang terlahir sebagai abang meskipun predikat abang terkadang
terlupakan oleh Sandra sendiri.
O
ya. Sandra ini masih SMP kelas 3 sedangkan Yodi sudah duduk dikelas 2 SMA.
Kedua orang tua mereka bekerja diluar kota dan terkadang pulang untuk menengok
mereka berdua. Hal ini yang seharusnya membuat Yodi sebagai abang memegang
tanggung jawab untuk menjaga adiknya harus menyerahkan semua itu kepada Adiknya
dan mengubah kedudukan sehingga adiknya yang harus mengurus adiknya.
“Yodi.
Motormu masih rusak ??”
“Iya
ne San. Hari ini baru bisa diambil. Terpaksa hari ini naik bis.”
“Naik
bis? Bukannya bis pagi lewatnya jam 6 ?”
Yodi
melirik jam yang ada diruang makan. “Iya...” Yodi terdiam membeku. Jam
didinding sudah menunjukam pukul 6 lewat 15 menit. Dan itu artinya bis pertama
sudah lewat dan ia harus naik bis kedua. Sedangkan bis kedua datang pukul 6
lewat 30 menit. Secepat kilat Yodi menghabiskan sarapannya, mengambil tas
dikamarnya dan sesegera memasang sepatu. Ia pun berlari sekuat tenaga menuju
halte bis yang tidak jauh dengan rumahnya. Saat dirinya sudah semakin dekat
dengan halte bis, sebuah bis tiba-tiba berhenti. Beberapa anak sekolahan yang
juga ingin berangkat sekolah naik kedalam bis tersebut. Yodi sekuat tenaga
menambah kecepatan larinya mengejar bis yang sudah meninggalkan halte bis. Tapi
syukurlah teriakan penderitaan Yodi terdengar jelas oleh kenet bis dan akhirnya
bis berhenti.
Dalam
perjalanan Yodi tak henti-hentinya mengipasi tubuhnya. Meskipun berulang kali
dikipasi, keringat Yodi makin bertambah. Karena banyaknya orang yang berada
didalam bis tersebut. Inilah satu alasan kenapa Yodi lebih suka naik bis
pertama dari pada bis kedua. Bis pertama selalu diisi anak-anak yang rajin.
Karena anak-anak rajin sekarang sudah bisa dihitung dengan jari hal itu
memiliki keuntungan sendiri untuk Yodi. Ia tidak harus berdiri. Dan bisa duduk
dimana pun ia suka. Dan terkadang ia bertemu gadis cantik dari sekolah lain.
Akan tetapi karena jam dinding yang tak bisa diajak kompromi, Yodi terpaksa
harus merasakan lelahnya pagi itu.
***
Saat
disekolah, Yodi berjalan dengan tenaga terakhir yang ia simpan dikakinya. Semua
tenaga yang ia kumpulkan dari sarapannya tersedot habis saat berada didalam
bis.
“Eh
kampret kok baru datang?” Seorang laki-laki kurus dan hitam mendekati dirinya
yang baru saja duduk dibangkunya.
Yodi
melirik pelan kearah sumber suara. ”Dari pada kau. Tumben datang cepat? Biasa
nya terlambat.” Laki-laki kurus yang bernama Ito itu melirik sinis kearah Yodi.
“Eko sama Uwin kemana ?”
“Entah.
Terlambat kali.”
Bel
berbunyi dengan keras. Orang-orang yang berada dikelas segera berjalan menuju
halaman sekolah. Menurut tradisi SMA Harapan Bangsa, setiap murid harus
berbaris dan mendengarkan amanat dari guru setiap pagi. Terkecuali hari jumat.
Hal ini juga sesuatu yang tidak disukai Yodi. Karena amanat yang diberikan
selalu berhubungan dengan kebersihan ketertiban dan juga kerapian. Inilah
penyebabnya ke-ra-pi-an. Yodi bukan anak yang jorok dan Yodi bukan orang yang
suka melanggar aturan akan tetapi Yodi tidak terlalu suka menyisir rambutnya
hingga akhirnya rambutnya yang berantakan meninggalkan kesan jorok padanya.
Selain itu Yodi tidak ingin menggunting rambutnya. Karena menurut prinsip nya
yang lain rambut itu mahkota dari seseorang jadi jika rambutnya dipotong
dirinya merasa bahwa kekuasaannya dijatuhkan. Dan karena peraturan sekolah yang
melarang muridnya berambut panjang membuat Yodi secara tidak langsung sudah
melanggar aturan. Jadi ya begitulah. Karena rambutnya dan penampilannya yang
terkesan seperti anak berandal membuat dirinya tampak tak rapi. Tapi lupakanlah
soal penampilan karena sesuatu tak harus dinilai dari penampilan bukan?
***
Saat
kembali kedalam kelas dua makhluk halus Eko dan Uwin sudah duduk dengan manis
didalam kelas.
“Kapan
kalian datang?” tanya Ito.
“Barusan.”
Jawab uwin
“Kami
beruntung satpam tidak ada di pintu gerbang jadi kami bisa masuk dengan aman.”
Lanjut Eko sambil mengancungkan jempolnya.
Tiba-tiba
speaker yang berada didalam kelas berbunyi. Pengumuman
bagi anak yang bernama Eko Satria dan Uwin Wijaya dari kelas 11 Mipa B
diharapkan menghadap ruang BP sekarang. Seluruh ruang kelas hening sejenak.
Eko dan Uwin tidak menyangka jika mereka akan dipanggil lewat speaker. Speker
tersebut terpasang di seluruh kelas dari kelas 10 hingga kelas 12. Sehingga
seluruh kelas pasti mendengar pengumuman tersebut.
“Ayo
kawan ku kita pergi.” Ajak Uwin yang sudah berdiri pasrah. Mereka berdua pun
berjalan sambil menahan malu menuju ruang BP.
Safa
ketua kelas berbadan kecil masuk sambil membawa absen yang dari tadi sudah ia
pegang selama apel pagi. “Yodi. Tolong isikan absen.” Ucapnya sambil
menyerahkan absensi kelas kepada Yodi dan duduk disamping Yodi.
Satu
lagi informasi. Yodi meskipun tampak seperti anak berandal akan tetapi memiliki
tanggung jawab yang tinggi. Ia menjabat sebagai sekertaris 2 dikelasnya. Ya
meskipun Yodi terpaksa dipilih sebagi sekretaris kelas. Karena menurut logika,
Yodi yang memiliki tulisan yang hampir tak terbaca mustahil bisa jadi
sekertaris. Ini karena saat pemilihan ketua kelas tiga siluman yang tak lain
adalah Ito, Eko dan Uwin mencalonkan namanya. Orang-orang yang melihat
penampilan dari Yodi pasti akan enggan untuk memilih Yodi. Alhasil hanya ada
tiga orang yang memilih nama Yodi. Dan sudah bisa dipastikan siapa saja yang
memilihnya. Meskipun tidak terpilih menjadi ketua kelas tapi hasi dari
pemilihan tersebut berhasil menyeret Yodi untuk menjadi sekretaris kelas.
Yodi
duduk di tempat yang berdekatan dengan meja guru. Hal ini juga ada penyebabnya.
Pasalnya pada saat semester pertama dimulai, Yodi terpaksa terlambat karena
motornya harus terpaksa masuk bengkel. Saat memasuki kelas, semua orang terkecuali
Yodi sudah mendapatkan tempat duduknya. Dan yang tersisa hanya ada stu kursi.
Itupun sangat berdekatan dengan meja guru. Awalnya Ia enggan untuk duduk disitu
akan tetapi setelah gagal mengobral
tempat duduk tersebut keteman – temannya, ia pun sekali lagi harus terpaksa
duduk di bangku tersebut. Safa yang saat itu juga baru pertama kali bertemu
dengan Yodi sedikit memasang jarak. Bagaimana tidak siapapun orang yang pertama
kali pasti akan takut karena melihat tampang berandal Yodi. Begitu juga dengan
Safa. Tetapi setelah beberapa minggu berlalu akhirnya Safa dapat menerima Yodi
dengan lapang dada.
Seorang
pria yang sudah sedikit tua masuk kedalam kelas sambil membawa buku dan juga
penggaris kayu yang panjang. Pria itu tak lain adalah Pak Retno, guru matematika.
“Kok
perasaanku ndak enak ya.” Bisik Yodi kepada Safa.
“Kita
hari ini ulangan keluarkan kertas selembar.” Ucap pria itu setelah meletakan barangnya di atas meja guru
“Tu
kan benar.”
Serentak
semua warga kelas mulai protes. Inilah kelebihan Pak Retno. Selalu bisa membuat
kehebohan dikelas. Beberapa murid tak bisa menerima sesuatu yang mendadak
seperti itu. Begitu juga dengan Yodi. Akan tetapi selama Safa berada
disampingnya Yodi tak mengeluarkan protes sedikitpun. Safa merupakan salah satu
murid pintar disekolah tersebut. Safa juga bukan orang yang pelit asalkan kita
tidak pernah mengganggunya.
Meskipun
banyak para murid yang memprotes hal tersebut, Pak Retno tak mundur sedikitpun.
Malahan dengan senyuman lebar di wajahnya ia menuliskan satu persatu soal
Matematika di papan tulis. Semua murid mulai mengeluarkan kemampuan terpendam
mereka. Tanpa suara sedikitpin dan tanpa bisa dilihat oleh mata, kertas
contekan yang dibuat oleh salah satu murid berhasil menyebar dengan cepat.
Murid-murid
pun dengan lincahnya menggunakan taktik griliya mereka. Sedangkan Eko dan Uwin
harus menahan bau dari bau wc karena mereka harus membersihan wc pria yang
terkenal dengan bau menyengatnya disiang hari. Setidaknya mereka bersyukur.
Karena mereka membersihkan wc tersebut saat pagi hari. Tapi sebagai efek
sampingnya mereka tidak bisa berjuang dalam medan pertempuran ulangan dadakan.
Dan hasilnya mereka terpaksa ikut ulangan susulan yang diawasi langsung oleh
Pak Retno.
Kasihan
ya.
#Ini cerita fiksi yang aku buat. terima kasih sudah mau baca. Mohon masukannya ya :D. Saya mohon diri
Tidak ada komentar:
Posting Komentar