Selasa, 20 Desember 2016

Yodi _ Yodi


Jam dinding dikamar Yodi masih menunjukan pukul 5 pagi. Tampak jarum detiknya tak bergerak sedikitpun dari tempatnya. Mungkin ia sudah lelah untuk terus bergerak atau mungkin sudah waktunya mengganti batreinya. Tapi hal ini tak dihiraukan oleh Yodi. Padahal gejala macetnya jam itu sudah terlihat dari kemarin. Namun kala itu jam itu masih bergerak walaupun hanya sebatas maju mundur.
“Bang Yodi !!!!” Teriakan keras terdengar dari arah jam 6. Tepatnya berada dilantai satu rumahnya. Semakin lama teriakan itu semakin keras hingga akhirnya terdengar jelas didepan pintu kamar Yodi.
“Baru jam 5 bentar lagi.”
Duar !!! suara pintu terbuka dengan paksa. “JAM 5???” Sandra (Adik Yodi) mengepalkan tangannya dan langsung menghajar makhluk yang masih berada dibalik selimut tersebut.
Yodi duduk termenung dimeja makan sambil memakan sarapannya. Rambutnya masih sedikit berantakan karena pada dasarnya Yodi tidak suka menyisir rambutnya. Menurut prinsip Yodi, seorang pria harus hidup layaknya seorang pria. Meskipun orang lain termasuk Sandra tidak begitu mengerti dengan prinsip hidup abangnya.
“Habiskan makananmu !!”
“I-iya.” Jawab Yodi dengan suara yang sedikit ketakutan. Wajar saja. Sandra ini merupakan anak karate yang sudah mengikuti beberapa turnamen dan banyak mendapatkan beberapa penghargaan. Sedangkan Yodi hanya seorang pria yang memiliki bentuk tubuh yang standar dengan kekuatan yang standar. Tak bisa dibandingkan dengan Sandra yang tubuhnya dan tenaganya sedikit lebih tinggi karena sering latihan. Dan satu-satunya yang masih bisa Yodi banggakan hanyalah kedudukannya yang terlahir sebagai abang meskipun predikat abang terkadang terlupakan oleh Sandra sendiri.
O ya. Sandra ini masih SMP kelas 3 sedangkan Yodi sudah duduk dikelas 2 SMA. Kedua orang tua mereka bekerja diluar kota dan terkadang pulang untuk menengok mereka berdua. Hal ini yang seharusnya membuat Yodi sebagai abang memegang tanggung jawab untuk menjaga adiknya harus menyerahkan semua itu kepada Adiknya dan mengubah kedudukan sehingga adiknya yang harus mengurus adiknya.
“Yodi. Motormu masih rusak ??”
“Iya ne San. Hari ini baru bisa diambil. Terpaksa hari ini naik bis.”
“Naik bis? Bukannya bis pagi lewatnya jam 6 ?”
Yodi melirik jam yang ada diruang makan. “Iya...” Yodi terdiam membeku. Jam didinding sudah menunjukam pukul 6 lewat 15 menit. Dan itu artinya bis pertama sudah lewat dan ia harus naik bis kedua. Sedangkan bis kedua datang pukul 6 lewat 30 menit. Secepat kilat Yodi menghabiskan sarapannya, mengambil tas dikamarnya dan sesegera memasang sepatu. Ia pun berlari sekuat tenaga menuju halte bis yang tidak jauh dengan rumahnya. Saat dirinya sudah semakin dekat dengan halte bis, sebuah bis tiba-tiba berhenti. Beberapa anak sekolahan yang juga ingin berangkat sekolah naik kedalam bis tersebut. Yodi sekuat tenaga menambah kecepatan larinya mengejar bis yang sudah meninggalkan halte bis. Tapi syukurlah teriakan penderitaan Yodi terdengar jelas oleh kenet bis dan akhirnya bis berhenti.
Dalam perjalanan Yodi tak henti-hentinya mengipasi tubuhnya. Meskipun berulang kali dikipasi, keringat Yodi makin bertambah. Karena banyaknya orang yang berada didalam bis tersebut. Inilah satu alasan kenapa Yodi lebih suka naik bis pertama dari pada bis kedua. Bis pertama selalu diisi anak-anak yang rajin. Karena anak-anak rajin sekarang sudah bisa dihitung dengan jari hal itu memiliki keuntungan sendiri untuk Yodi. Ia tidak harus berdiri. Dan bisa duduk dimana pun ia suka. Dan terkadang ia bertemu gadis cantik dari sekolah lain. Akan tetapi karena jam dinding yang tak bisa diajak kompromi, Yodi terpaksa harus merasakan lelahnya pagi itu.
***
Saat disekolah, Yodi berjalan dengan tenaga terakhir yang ia simpan dikakinya. Semua tenaga yang ia kumpulkan dari sarapannya tersedot habis saat berada didalam bis.
“Eh kampret kok baru datang?” Seorang laki-laki kurus dan hitam mendekati dirinya yang baru saja duduk dibangkunya.
Yodi melirik pelan kearah sumber suara. ”Dari pada kau. Tumben datang cepat? Biasa nya terlambat.” Laki-laki kurus yang bernama Ito itu melirik sinis kearah Yodi. “Eko sama Uwin kemana ?”
“Entah. Terlambat kali.”
Bel berbunyi dengan keras. Orang-orang yang berada dikelas segera berjalan menuju halaman sekolah. Menurut tradisi SMA Harapan Bangsa, setiap murid harus berbaris dan mendengarkan amanat dari guru setiap pagi. Terkecuali hari jumat. Hal ini juga sesuatu yang tidak disukai Yodi. Karena amanat yang diberikan selalu berhubungan dengan kebersihan ketertiban dan juga kerapian. Inilah penyebabnya ke-ra-pi-an. Yodi bukan anak yang jorok dan Yodi bukan orang yang suka melanggar aturan akan tetapi Yodi tidak terlalu suka menyisir rambutnya hingga akhirnya rambutnya yang berantakan meninggalkan kesan jorok padanya. Selain itu Yodi tidak ingin menggunting rambutnya. Karena menurut prinsip nya yang lain rambut itu mahkota dari seseorang jadi jika rambutnya dipotong dirinya merasa bahwa kekuasaannya dijatuhkan. Dan karena peraturan sekolah yang melarang muridnya berambut panjang membuat Yodi secara tidak langsung sudah melanggar aturan. Jadi ya begitulah. Karena rambutnya dan penampilannya yang terkesan seperti anak berandal membuat dirinya tampak tak rapi. Tapi lupakanlah soal penampilan karena sesuatu tak harus dinilai dari penampilan bukan?
***
Saat kembali kedalam kelas dua makhluk halus Eko dan Uwin sudah duduk dengan manis didalam kelas.
“Kapan kalian datang?” tanya Ito.
“Barusan.” Jawab uwin
“Kami beruntung satpam tidak ada di pintu gerbang jadi kami bisa masuk dengan aman.” Lanjut Eko sambil mengancungkan jempolnya.
Tiba-tiba speaker yang berada didalam kelas berbunyi. Pengumuman bagi anak yang bernama Eko Satria dan Uwin Wijaya dari kelas 11 Mipa B diharapkan menghadap ruang BP sekarang. Seluruh ruang kelas hening sejenak. Eko dan Uwin tidak menyangka jika mereka akan dipanggil lewat speaker. Speker tersebut terpasang di seluruh kelas dari kelas 10 hingga kelas 12. Sehingga seluruh kelas pasti mendengar pengumuman tersebut.
“Ayo kawan ku kita pergi.” Ajak Uwin yang sudah berdiri pasrah. Mereka berdua pun berjalan sambil menahan malu menuju ruang BP.
Safa ketua kelas berbadan kecil masuk sambil membawa absen yang dari tadi sudah ia pegang selama apel pagi. “Yodi. Tolong isikan absen.” Ucapnya sambil menyerahkan absensi kelas kepada Yodi dan duduk disamping Yodi.
Satu lagi informasi. Yodi meskipun tampak seperti anak berandal akan tetapi memiliki tanggung jawab yang tinggi. Ia menjabat sebagai sekertaris 2 dikelasnya. Ya meskipun Yodi terpaksa dipilih sebagi sekretaris kelas. Karena menurut logika, Yodi yang memiliki tulisan yang hampir tak terbaca mustahil bisa jadi sekertaris. Ini karena saat pemilihan ketua kelas tiga siluman yang tak lain adalah Ito, Eko dan Uwin mencalonkan namanya. Orang-orang yang melihat penampilan dari Yodi pasti akan enggan untuk memilih Yodi. Alhasil hanya ada tiga orang yang memilih nama Yodi. Dan sudah bisa dipastikan siapa saja yang memilihnya. Meskipun tidak terpilih menjadi ketua kelas tapi hasi dari pemilihan tersebut berhasil menyeret Yodi untuk menjadi sekretaris kelas.
Yodi duduk di tempat yang berdekatan dengan meja guru. Hal ini juga ada penyebabnya. Pasalnya pada saat semester pertama dimulai, Yodi terpaksa terlambat karena motornya harus terpaksa masuk bengkel. Saat memasuki kelas, semua orang terkecuali Yodi sudah mendapatkan tempat duduknya. Dan yang tersisa hanya ada stu kursi. Itupun sangat berdekatan dengan meja guru. Awalnya Ia enggan untuk duduk disitu akan tetapi setelah gagal  mengobral tempat duduk tersebut keteman – temannya, ia pun sekali lagi harus terpaksa duduk di bangku tersebut. Safa yang saat itu juga baru pertama kali bertemu dengan Yodi sedikit memasang jarak. Bagaimana tidak siapapun orang yang pertama kali pasti akan takut karena melihat tampang berandal Yodi. Begitu juga dengan Safa. Tetapi setelah beberapa minggu berlalu akhirnya Safa dapat menerima Yodi dengan lapang dada.
Seorang pria yang sudah sedikit tua masuk kedalam kelas sambil membawa buku dan juga penggaris kayu yang panjang. Pria itu tak lain adalah Pak Retno, guru matematika.
“Kok perasaanku ndak enak ya.” Bisik Yodi kepada Safa.
“Kita hari ini ulangan keluarkan kertas selembar.” Ucap pria itu setelah meletakan barangnya di atas meja guru
“Tu kan benar.”
Serentak semua warga kelas mulai protes. Inilah kelebihan Pak Retno. Selalu bisa membuat kehebohan dikelas. Beberapa murid tak bisa menerima sesuatu yang mendadak seperti itu. Begitu juga dengan Yodi. Akan tetapi selama Safa berada disampingnya Yodi tak mengeluarkan protes sedikitpun. Safa merupakan salah satu murid pintar disekolah tersebut. Safa juga bukan orang yang pelit asalkan kita tidak pernah mengganggunya.
Meskipun banyak para murid yang memprotes hal tersebut, Pak Retno tak mundur sedikitpun. Malahan dengan senyuman lebar di wajahnya ia menuliskan satu persatu soal Matematika di papan tulis. Semua murid mulai mengeluarkan kemampuan terpendam mereka. Tanpa suara sedikitpin dan tanpa bisa dilihat oleh mata, kertas contekan yang dibuat oleh salah satu murid berhasil menyebar dengan cepat.
Murid-murid pun dengan lincahnya menggunakan taktik griliya mereka. Sedangkan Eko dan Uwin harus menahan bau dari bau wc karena mereka harus membersihan wc pria yang terkenal dengan bau menyengatnya disiang hari. Setidaknya mereka bersyukur. Karena mereka membersihkan wc tersebut saat pagi hari. Tapi sebagai efek sampingnya mereka tidak bisa berjuang dalam medan pertempuran ulangan dadakan. Dan hasilnya mereka terpaksa ikut ulangan susulan yang diawasi langsung oleh Pak Retno.
Kasihan ya.



#Ini cerita fiksi yang aku buat. terima kasih sudah mau baca. Mohon masukannya ya :D. Saya mohon diri

Tidak ada komentar:

Posting Komentar