Selasa, 20 Desember 2016

Yodi _ Malam Minggu

“Eh bro malam ini kita ngapain?” Tanya Uwin setelah menyruput habis es tehnya.
“Entwah lwah.” Jawab Eko sambil masih mengunyah makanannya.
“Aku mungkin Cuma diam dirumah.” Yodi ikutan menjawab.
“Sama lah. Aku mungkin Cuma diam di rumah.” Ito tak mau kalah.
            Seperti biasa 4 sekawan ini ngerumpi setelah menghabiskan makananya di kantin. Meskipun semua murid sudah kembali kekelas masing-masing tetapi 4 makhluk halus ini masih mendiami kantin sekolah. Wajar saja karena jam terakhir guru yang mengajar tidak masuk dan hanya memberikan sedikit catatan. Yodi yang seharusnya berpangkat sebagai sekertaris 2 menyerahkan semua tugas catat mencatat kepada sekertaris 1, Wenny.
            “Ah ndak asik kalian. Kayak aku dong malam minggu keluar.”
            “Memang kau kemana ?”
            “Warnet.”
            “Huuuu.” Semua menyorakinya bersamaan.
            “Dasar jones. Masih mendingan aku. Biarpun ndak keluar aku masih beduaan dengan cewek.” Yodi membanggakan dirinya.
            “Siapa?” Ito memasang muka penasaran.
            “Sandra.”
            “Ya-e-lah. Adikmu rupanya.”
            “Yee aku kan ndak ada bilang kalau cewek itu pacarku.” Yodi membela dirinya.
            Penjaga kantin terus melirik kearah 4 siluman itu dengan pandangan sinis. Bagaimana tidak 4 orang ini kalau sudah ngerumpi lebih lama dari pada wanita. Dan yang diomongin mereka pun tak jauh-jauh amat tentang wanita dan hal-hal yang bersangkutan dengan pria. Jika mereka membicarakan hal-hal tentang laki-laki keren disekolah mungkin sang penjaga kantin akan memberikan air gratis dan juga ikut mendengarkan cerita merika. Wajar saja penjaga kantin ini seorang wanita yang umurnya masih sama dengan mereka karena sekolahnya masuk siang jadi dia menghabiskan waktu paginya untuk membantu ibunya menjaga kantin.
Penjaga kantin ini sebenarnya sedikit bosan karena harus sering berurusan dengan 4 siluman ini. Terlihat dari mukanya yang jijik jijik enyel karena melihat mereka berempat. Ya karena mereka adalah orang pertama yang berada dikantin sebelum bel istirahat berbunyi dan orang yang paling akhir meninggalkan kantin saat jam pelajaran seharusnya sudah dimulai. Hingga akhirnya dengan terpaksa dirinya harus bersabar diri untuk menunggu keempat orang itu agar pergi meninggalkan kantinnya.
“Baiklah kita hari ini pergi untuk makan bersama. Ngumpul dirumah Eko. Oke.” Uwin tiba-tiba mengeraskan suaranya sehingga sang penjaga kantin ikut mendengar suara Uwin.
“lo kok dirumah ku?”Eko protes
“Oke.” Jawab Ito dan juga Yodi bersamaan.
Bel sekolah berakhirpun berbunyi dengan keras. Keempat siluman ini segera meninggalkan kantin tersebut. Penjaga kantin yang dari tadi sudah menunggu lama akhirnya dapat bernafas lega. Hingga akhirnya dirinya teringat hal yang sangat penting jika mereka berempat belum membayar makanan mereka. Dengan perasaan kesal ia membersihkan meja yang dipakai oleh keempat siluman itu. Hingga akhirnya ia menemukan secarih kertas kecil di bawah mangkok.
Makanannya dan minumannya dibayarkan sama Uwin Wijaya kelas 11 mipa B.
Setelah membaca tulisan itu diambilnya buku utang yang selalu berada didekatnya. Dicarinya nama Uwin Wijaya dibukunya. Terlihat daftar utang yang sangat panjang dibuku tersebut. Dan dibawahnya ia kembali menuliskan tanggal dan jumlah utangnya.
***
            “Yodi. Kamu nanti ini mau keluar?” Tanya Sandra yang ikutan duduk bersama Yodi di ruang tv.
            “Mungkin iya dan mungkin juga tidak. Sebenarnya tadi Uwin ngajak keluar. Makan bersama katanya. Tapi lebih enakan makan dirumah dari pada di luar.”
            “O gitu. Memangnya Uwin ngajak keluar jam berapa?”
            Yodi terdiam mendengar pertanyaan dari Sandra adiknya. Diingatnya kembali kejadian saat pulang sekolah. Dalam bayangan nya ia ingat jika dirinya menulis catatan kecil dan menaruhnya di bawah mangkok. Eh salah ingatan. Ia menggelng-gelengkan kepalanya dan ingatananya yang lainpun terbayang kembali. Disitu ia ingat jika Uwin tidak pernah mengatakan jam berapa mereka harus berkumpul. Dipandanginnya wajah adiknya dengan wajah serius.
            “Kenapa?” Sandra terheran-heran.
            “Ah tidak.” Yodi mengelak. Dalam hatinya ia merasa sangat lega karena tau alasan yang tepat agar ia bisa berdiam diri dirumah.
            Yodi ini pada dasarnya sama seperti anak muda pada umumnya. Suka berkumpul dan pergi bersama-sama dengan temanya. Tapi ia sedikit anti dengan malam minggu. Karena malam minggu itu malamnya orang-orang yang punya pasangan. Sedangkan Yodi jelas tidak punya pasangan untuk diajak keluar. Jadi ia lebih memilih melakukan aktifitas yang lebih berguna saat malam minggu. Tidur misalnya.
            Terdengar suara guntur dari langit saat ia dan adiknya sedang asik menonton tv. Hal itu membuat hatinya semakin lega. Ia pun bangkit berdiri dan pergi ke tangga menuju kamarnya dilantai dua.
            “Eh Yodi. Jadi malam ini kamu mau keluar atau tidak?” Teriak adiknya yang masih berada di ruang tv.
            “Mungkin tidak. Jadi tolong masakan ya.” Yodi ikutan teriak dari lantai dua.
***
            Dirumah Eko, saat jam menunjukan pukul 7 malam, Uwin datang sambil mengenakan mantel hujan. Eko hanya bisa melihat kedatangan Uwin dengan pandangan tak percaya.
            “Kamu beneran datang?” Tanya Eko yang hanya menggunakan celana pendek.
            “Ya iyalah. Ito sama Yodi mana?”
            “Belum datang.”
            “Hah ? kok ?”
            “Memangnya kamu tadi ada bilang ngumpulnya jam berapa?” Uwin terdiam membeku mendengar pertanyaan dari Eko. Segera diambilnya handphone yang berada dikocek celananya. Dan segera menelpon Ito. Ito yang kala itu sedang mengurusi adiknya yang paling kecil tidak mendengar suara dari handphonenya. Segera ia menelponYodi. Yodi yang kala itu sedang makan bersama dengan adiknya sedikit enggan mengangkat panggilan tersebut meskipun akhirnya ia tetap menjawab panggilan tersbut sambil menutup hidungnya lalu berbicara pelan. “Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkuan. Tiiit.” Yodi segera mematikan handphone nya lalu melanjutkan makanannya. Sedangkan Uwin habis memaki-maki mereka dirumah Eko. Akhirnya rencana malam minggu yang sudah disusun oleh Uwin gagal total hanya karena lupa memberitahu waktu untuk berkumpul.
            “O ya. Tadi kamu tumben nanyain aku keluar atau ndak?” Tanya Yodi sambil memakan makanannya.
            “Ah, sebenarnya tadi disekolah, anak-anak karate ngajakin ngumpul bareng makan sama-sama karena salah satu anggota kami ada yang ulang tahun. Tapi ya karena kamu tadi suruh masakin ya jadi aku nggak ikut.”
            Yodi merasa bersalah karena telah merengut kebahagian adiknya. Makanan enak yang dimasak oleh adiknya tiba-tiba terasa hambar dan enggan untuk masuk ke dalam perut. Dipandanginya wajah adiknya dengan serius.
            “Kenapa Yodi?”
            Diletakannya sendok yang ia pegang keatas piriny yang masih berisi. “Kalau kamu mau jalan sama teman-teman kamu, ya jalan aja. Aku ndk apaa-apa kok dirumah.”
            “Endak ah. Sebenarnya Sandra juga ndak terlalu suka dengan kegiatan kayak gitu. Ujung-ujungnya pasti anggota cowok sok-sok ngedekatin anggota cewek. Dan juga enakan makan dirumah dari pada diluar.”
            Yodi sedikit tersenyum. Diangakatnya kembali sendok yang ia letakan dan mulai makan dengan lahap. Hati nya sedikit senang karena perlahan-lahan adiknya sudah mulai dewasa. Dan mungkin nanti akan lebih dewasa dari pada dirinya sendiri.
            Sementara Uwin sedang menikmati teh hangat dan sepiring kue bersama dengan Eko. Hujan yang semakin kuat membuat Uwin tidak bisa memaksakan diri untuk pulang. Dengan amarah yang masih tersimpan ia mengigit kue-kue tersebut sambil membayangkan Ito dan juga Yodi. Cara makannya pun tidak sengaja terpengaruh. Ia menggigit kue tersebut seakan-akan sedang mengunyah daging. Eko yang melihat hal tersebut sedikit kesal karena cara makan Uwin membuat bagian dari kue tersebut berserakan dimana-mana.
***
            Saat hari senin. Uwin datang menghampiri Ito dan Yodi yang sedang berdiri didepan kelas menunggu bel untuk upacara bendera. Ia sudah memilihkan kata-kata yang pas untuk memarahi mereka berdua. Saat akan memarahi mereka, Yodi dan juga Ito tiba-tiba meminta maaf.
            “O ya. Sorry kemarin pas malam minggu ndak bisa keluar soalnya lagi sibuk.” Yodi beralasan.
            “Sama aku juga.”
            Yodi dan juga Ito memasang wajah yang membuat Uwin percaya jika mereka benar-benar sibuk.
“Yodi!”
“Apa?”
“Bukannya kamu yang kemarin mengangkat ...”
            “O ya sebagai permintaaf maaf kami. Kami akan mentraktirmu makan hari ini.” Yodi segera memotong pembicaraan Uwin.
            “Baiklah.” Dengan cepat Uwin memaafkan mereka. Dalam pikirannya ia bergumam. Hahaha dasar bodoh kali ini giliran aku yang akan mengerjai kalian. Kalian kira aku bisa memaafkan kalian semudah itu. Maafku ini mahal harganya. Akan aku pesan makanan yang paling mahal. Hahahaha . hahahaha.
            Saat istirahat Uwin sudah menghabiskan makanan gratisnya. Ito Yodi dan juga Eko mengumpulkan uang jajan mereka untuk membayarkan makanan Uwin. Saat hendak kembali kedalam kelas, Uwin bangkit berdiri dan mendekati sang penjaga warung. Ia berencana membayarkan utang-utangnya.
            “O ya dek. Saya mau bayar utang saya.” Ucapnya dengan muka polos.
            “Uwin Wijaya?”
            “Iya.”
            “Kelas 11 Mipa B?”
            “Iya. Kok tau? Dedek stalkerin abang ya ?”
            “Ya ndak lah. Soalnya saya ingat abang orang yang palin sering ngutang.”
            Uwin terdiam. “Iya-iya ini saya mau bayarin utang saya. Berapa jumlahnya?”
            Saat di perhatikan jumlah keseluruhan utangnya, Uwin hanya bisa terkangak lebar.
            “Ini hutang saya?” tanyanya yang masih kebingungan.
            “Iya.”
            “Kok bisa sebanyak ini?”
            “Bukannya abang sering mentraktir kawan-kawan abang itu?”
            “Hah? Kapan?”
            “Ini buktinya.” Sang penjaga memeperlihatkan kertas kecil yang bertuliskan sesuatu diatasnya. Tulisannya yang jelek membuat dirinya tau siapa yang telah menulis kertas tersbut. Tidak lain dan tidak bukan adalah Yodi. Dipandanginya ketiga orang yang seharusnya berada dibelakangnya. Akan tetapi ketiga orang yang seharusnya bertanggung jawab telah pergi meninggalkan dirinya sendiri dikantin sekolah.
            “Ini bukan tulisan saya. Saya ndak mau bayar.”
            Sang penjaga warung yang sudah terbiasa dengan sikap seperti itu segera memanggil ibunya yang tadi sedang mencuci piring dibagian belakan kantin. “Ibu ! Ada orang yang ndak mau bayar.” Teriaknya santai. Seorang wanita gemuk muncul dari bagian belakang kantin sambil membawa palu yang biasa ia gunakan untuk memecahkan batu es. Tampangnya yang begitu menyeramkan menciutkan keberanian Uwin.
            “Siapa yang ndak mau bayar?” Tanyanya dengan suara yang menggelegar dan membuat kaki Uwin tidak berhenti bergetar.
            “Ini Bu...”
            “Eh kata siapa. Ini juga mau bayar. Berapa tadi ? enam puluh ribu tujuh ratus kan?” Uwin segera mengorek-ngorek uang didompetnya. Dengan tangan yang juga ikutan gemetar membuat beberapa kali dompet tersebut hampir terjatuh. “Ini.” Ucapnya sambil menyerahkan uang dan segera berlari meninggalkan kan kantin sambil beberapa kali hampir terjatuh karena kakinya yangtidak mau berhenti gemetar. Di pelariannya ia sempatkan untuk melampiaskan kekesalannya. “Siaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaal !!!!!!!”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar